Tuesday, April 04, 2006

MY spectaculaR WeeKenD


Hidung peseknya memerah dan mulai berair. Jari jemarinya yang mulai kaku begitu sibuk meraih tissue murahan yang dia beli, mengusap tetes demi tetes ingus yang membuat gatal hidungnya. Rambutnya yang acak-acakan tertiup ributnya angin, ia ikat dengan slayer pinjaman bergambar bendera negri paman sam. Matanya liar mencari dan menikmati semua pemandangan yang bisa dia dapatkan di sekelilingnya. Senyumnya pun jadi lebar ketika menemukan sebatang pohon yang tertinggal yang ia pikir cantik untuk menemaninya berpose di kawah putih, Ciwidey, selatan Bandung.

Sayang posenya dan senyumnya jadi kaku ketika sang fotografer mencoba mengabadikannya. Suhu yang cuma 10 derajat Celsius di tepat siang bolong itu, membuat sang model tak mampu berekspresi ceria. Kumpulan lemak yang minim pada tubuh kecil berbobot 44 kg itu, tak mampu membakar lemak. Bahkan balutan jaket putih yang cukup tebal yang ia kenakan pun, tak sanggup membuatnya tetap hangat. Dingin telah mengalahkannya.

====================================================================================================
Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 m dpl yang berjarak 46 km dari Bandung. Kawah ini terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII.

Nama Patuha sendiri konon berasal dari kata Pak Tua, oleh karenanya masyarakat setempat seringkali menyebutnya dengan Gunung Sepuh (sepuh artinya tua). Lebih dari seabad yang lalu puncak Gunung Patuha oleh masyarakat setempat dianggap angker, sehingga tak seorangpun berani menginjaknya. Waktu itu, menurut Agus, masyarakat cuma tahu bahwa setiap burung yang terbang melintas areal itu mati. Tapi seorang peranakan Belanda-Jerman bernama Dr.Franz Wilhelm Junghuhn, pada 1864, menemukan kawah itu dan berhasil membuktikan bahwa tempat tersebut tidak angker. Matinya burung-burung yang melintas adalah akibat bau belerang yang menyenggat.

Untuk masuk ke Kawah, kami(Aku, Agus dan Nyo Nyo) harus membayar biaya tiket masuk perorang sebesar Rp 3.000 (sudah termasuk asuransi Rp. 250). Bermodal motor Kymco yang bergantian aku tebengin, kami menempuh jarak sekitar 3 Km guna mencapai kawah. Di sepanjang jalan yang cukup mulus beraspal nan menanjak itu, kami menemukan banyak pepohonan cantik, tinggi, tua. Kami juga sempat menemukan sejumlah mobil besar yang terpaksa menurunkan muatannya karena tak kuat membawa beban. Kami sendiri sempat mendapatkan motor agus tertinggal di belakang karena kurang cepat ganti gigi menghadapi jalan yang cukup berkabut dan licin itu.

Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di lokasi terdekat menuju kawah. Motor pun kami parkir, di dekat warung. Kabut semakin tebal, pun angin semakin kencang berkibar. Bandrek panas pun segera dipesan, menemani nyala rokok yang tak henti mengepul. Tiba-tiba ada yang kelaparan. Rupanya bekal makan siang special yang disiapkan Nyo Nyo jadi alternative pilihan melawan dingin. Tapi rupanya, nasi Padang yang pedas dengan lauk dendeng dan ayam itu, tak mampu memberi rasa. Ia hanya mampu jadi energi kami sebelum menuju ke kawah dengan berjalan kaki sekitar 100 meter.


Dari jarak sekitar 50 meter menuju kawah, kami sudah bisa melihat warna hijau kawah. Bau belerang samar-samar menyambangi hidung, ketika kaki-kaki kami menapaki tangga menuju kawah. Setibanya di kawah ini, kami dihadapkan pada sebuah hamparan air nan luas berwarna hijau. Seketika aku jadi bingung, kenapa namanya bukan kawah Hijau ya ? Sayang, aku tidak menemukan jawabannya. Tapi yang jelas, berwisata di lokasi ini luar biasa. Sangat indah dan berkesan….ntuk masuk ke Kawah, kami(Aku, Agus dan Nyo Nyo) harus membayar biaya tiket masuk perorang sebesar Rp 3.000 (sudah termasuk asuransi Rp. 250). Bermodal motor Kymco yang bergantian aku tebengin, kami menempuh jarak sekitar 3 Km guna mencapai kawah. Di sepanjang jalan yang cukup mulus beraspal nan menanjak itu, kami menemukan banyak pepohonan cantik, tinggi, tua. Kami juga sempat menemukan sejumlah mobil besar yang terpaksa menurunkan muatannya karena tak kuat membawa beban. Kami sendiri sempat mendapatkan motor agus tertinggal di belakang karena kurang cepat ganti gigi menghadapi jalan yang cukup berkabut dan licin itu.

Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di lokasi terdekat menuju kawah. Motor pun kami parkir, di dekat warung. Kabut semakin tebal, pun angin semakin kencang berkibar. Bandrek panas pun segera dipesan, menemani nyala rokok yang tak henti mengepul. Tiba-tiba ada yang kelaparan. Rupanya bekal makan siang special yang disiapkan Nyo Nyo jadi alternative pilihan melawan dingin. Tapi rupanya, nasi Padang yang pedas dengan lauk dendeng dan ayam itu, tak mampu memberi rasa. Ia hanya mampu jadi energi kami sebelum menuju ke kawah dengan berjalan kaki sekitar 100 meter.


Dari jarak sekitar 50 meter menuju kawah, kami sudah bisa melihat warna hijau kawah. Bau belerang samar-samar menyambangi hidung, ketika kaki-kaki kami menapaki tangga menuju kawah. Setibanya di kawah ini, kami dihadapkan pada sebuah hamparan air nan luas berwarna hijau. Seketika aku jadi bingung, kenapa namanya bukan kawah Hijau ya ? Sayang, aku tidak menemukan jawabannya. Tapi yang jelas, berwisata di lokasi ini luar biasa. Sangat indah dan berkesan….

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home