Friday, August 11, 2006

MeRanGKai JaLaN CiNTA

Dentum Perkusi, nada mengalir,
menguntai melodi optimisme Cinta milik Norah Jones…


****************************************************************
"In The Morning"


I can't stop myself from callin'
Callin' out your name
I can't stop myself from fallin'
Fallin' back again
In the mornin'
Baby in the afternoon

Dark like the shady corners
Inside a violin
Hot like to burn my lips
I know I can't win
In the mornin'
Baby in the afternoon

I tried to quit you
but I'm too weak
Wakin' up without you
I can hardly speak at all

My girlfriend tried to help me
To get you off my mind
She tried a little tea and sympathy
To get me to unwind
In the mornin'
Baby in the afternoon

Funny how my favorite shirt
Smells more like you than me
Bitter traces left behind
Stains no one can see
In the mornin'
Baby in the afternoon

You're gonna put me in an early grave
I know I'm your slave whenever you call

*********************************************************************************************

BerMula dari sebuah Pertemuan yang tertunda hampir dua tahun lebih.
Pertemuan yang tidak terlalu ku inginkan karena ke-ingkaran-nya dalam banyak kesempatan yang sempat ada. Aku begiTU tidak antusias untuk BerjumPa.
Sedikit kesal, tapi tokh akhirnya setelah sedikit dipaksa, kami berJumpa.

Tak banyak yang tertinggal dalam jumpa singkat itu.
Hanya satu kesan kuat yang terbawa sekembalinya ke Jakarta.
NYamaN….sekali. Damai dan TenTraM.
Lucunya kesan itu muncul ketika dia mendekapku, ketika kami terjatuh dari sepeda motornya. Kami mengucap kata piSah.

seSudaHnya KehiduPan berjalaN normal. Pikirku.
Aku kembali berutiniTas. Dia juga, pikiRku.
Tapi pesan pendeknya yang sederhana, mengundang curiga.
Dan aku diam saja. Biasa…

Lalu pengakuan itu tiba.
Pengakuan tentang ketertarikan dan alasannya.
Dan ku Jawab sekenanya. Biasa…
Ku yakiNkan dia hanya Terkesima sesaaT.
Dahaga sebentaR.

Dia Mati-matian membantah.
Mati-matian mempErtahankan Rasa yang dia PunYa.
Mati-matian meYakinkAn..bahwa Rasa Itu Sudah Ada di Antara kita.

Dia langkahkan kakinya ke kotaku.
Perjumpaan kedua.

BeGitu banYak perdebatan.
pada tengah malam hingga ujung malam yang nyaris pergi.
BerJalaN menYUsuri pusat metropolitan.
Berpegangan tangan, bergelayut, mengecup pipi dan tanganku
lalu siap mengucAp lagi kata pisah.

TaPi kami RindU berPeLuK.
Kami tak Mau ini diakihiri oleh sang Mentari.
Tapi Tangis Yang akhiRnya kami dapaT.

Ku Paksa dia kembaLi ke kotanya
TemPat seLuRuh HiduPNya dicUrahKan.
“Kita tidak punya Masa DePaN sayang”..begitu ucapku dalam tangis yang begitu sakit.

Dalam tangis sendiriku di kamar aku berteriak “ Aku Tak mau ditinggalkan. Aku tidak mau meLiHaT punggung itu dari belakaNg ! “

Dia meLaWaN…lalu Diam dan Menangis kemudian PulaNg.
Dia bilang kotanya juga ikut menangis.
Tapi aku diam dalam duka.
PikiRku “Ini akan sangat sakit. Aku tak mau lagi”

Lalu, sebuah prosa cinta dia kirimkan untuk ku, Tulip Hitam.
Aku tersanjung tapi tetap berDuka
Prosanya bicara tentang malam, gelap dan telaga.
Dan aku cuma bisa berteriak “"Beranikah kau lawan telaga dan ujung malam?" .
Dia menjawab kebinggungan.
Merenung, bingung menjadi gunung. Mengalir menjadi air.

Kebinggungan masih juga muncuL.
PerdeBatan masih melunCuR.
Milyaran pertanyaan dan Triliunan harapan juga masih mengantung.
Tapi Rasaku dan semua sudah MenYerAh.
Aku MenciNtai MU SayanG…

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home