Friday, September 01, 2006

9 Jam bersama "LUSI"


wo....Wo...Wo...WOOOOO.....(baca kayak Sinchan yang lagi tersepona dan kaget ketakutan ga keruan yah..hihihi...)

Gitu deh komentar yang bisa keluar dari mulut gw.
MenGamaTi dan melihat aktifitas "LUSI" dari jarak sejengKaL doang. LIVE view and RepoRt plus pake acara nyaris kecemPlung puLa..alamaT NyusuL MarilYn MOnroe deh..hehehe...
Gw bener-bener ngeri liat kondisi disana..

"LUSI" itu kependekan dari LUmpuR Panas SidoaRdjo.
Tau dong apa yang terjadi disana sejak Mei 2006 lalu...
Ini link-nya deh klo belon tau(ckckckck)....
http://id.wikipedia.org/wiki/Semburan_lumpur_panas_di_Sidoarjo

Istilah"LUSI" ini diperkenalkan Pak Amin Widodo, geolog lulusan UGM yang jadi salah satu nara sumber liputan kami(NOS TV-http://www.nos.nl/nos/voorpagina/).
pak Amin yang kini jadi salah satu pengajar di fakultas Teknik Sipil ITS ini, banyak membagi pengetahuannya soal "LUSI" ini.

Dia bilang LUSI muncul karena aktivitas eksplorasi oleh PT Lapindo Brantas di tanah yang dinamik dimana banyak terdapat rekahan dan mengandung kadar minyak dan gas bertekanan tinggi. Tanah ini dia ibaratkan seperti balon berisi tekanan tinggi. Balon itu kemudian pecah karena ditusuk oleh mata bor yang dipakai oleh Lapindo untuk mengekplorasi tanah itu. Nah..karena pengeboran tidak dilakukan sesuai prosedur seperti tidak memasang casing(selubung bor) ada kedalaman 4200-9000 kaki, maka lumpur panas yang keluar sebagai dampak pengeboran itu, naik ke permukaan tanah.

Lumpur juga jadi menyebar ke lubang-lubang lainnya karena lumpur ini mencoba mencari jalan keluar dari tekanan yang tinggi di bawah tanah. Lumpur ini pun akhirnya menemukan jalan keluar lewat jalur rekahan yang banyak terdapat di tanah tempat pengekplorasian dilakukan.

(Wait...pada bosen dan ga tertarik yah sama info serius ini yah ? Maafkan..hehehe....)

Jujur..sepanjang 3 bulan cuma bisa melihat dari layar kaca soal aktivitas LUSI ini, gw dibikin semakin penasaran sama kondisi nyatanya di lapangan. Rasanya ga afdol dong kalao ga lihat sendiri. Untungnya ibu bos, dapat approval untuk liputan LUSI ini. Meski dah telat dan gw nyaris keabisan energi sama urusan bikin Film "Peace In Aceh", feature "Pasukan Garuda" dan terus memantau eksekusi Om Tibo, we finallY go there on Thursday, 31 Agustus 2006.

Peliputan dipatok kelar seharian itu. Kami harus dapat semua footage yang kami sudah rencanakan buat feature LUSI ini. Berangkat jam 5 pagi dari kos Mba Ndru karena ga mau bangun kesiangan..kami naik GARUDA yang terbang jam 07.15 dan hrus kembali lagi ke Jakarta dengan ADAM AIR, jam 19.45...hiks..

So, bgitu sampe langsung dijemput Pak Dedi, supir yang aku sewa.
Sempet malu deh di airport Djuanda. Abis bapak ini bawa kertas putih gede,
bertuliskan "ATIK NOS TV BElanda"..hehehehe...MakLum baru kali ini gw digituin...hihihihihi....
Padahal pagi jam 6, gw masih sempet gw telpon dan bilang nanti gw hubungi kalau sudah landing. Eh dia udah keburu nyiapin kertas putih itu duluan..hehehehe...

Trus, kami juga berjumpa Pak Amin di Bandara untuk pergi bersama ke lokasi untuk ambil gambar plus wawancara dengannya.

Ada kejadian lucu sih sama Pak Amin. Dari awal dia pengen banget kampusnya dishooting.
Dan upayanya membujuk ku supaya wawancara bisa dilakukan di kampusnya masih terus dilakukan bahkan ketika kami sudah selesai dengan tugas kami dan tengah dalam perjalanan pulang ke JKT..hehehehe...

Dia bilang..pengen numpang keren di BElanda kalau kampusnya di shooting.
Tapi kepadanya gw jelasin bahwa untuk kebutuhan gambar, kami perlu melakukan wawancara di lokasi untuk memberi back ground gambar yang lebih tepat dengan tema yang ami angkat dalam liputan kali itu. Untungnya dia mengerti, dan akhirnya setuju meski akhirnya mengeluh pusing dan tidak bisa menghilangkan bau yang tertinggal akibat wawancara dengan kami di sumber utama lumpur panas itu muncul.

oh iya..Pak Amin juga sempat ketakutan bin panik ketika LUSI yang keluar semakin besar, melutup-letup-bergemuruh seperti suara ombak yang besar di lautan dan mengepulkan asap tebal putih dan hitam. Dia seketika meninggalkan posisinya, padahal pertanyaan belum semua ditanyakan. Sesi wawancara pak Amin dengan kami pun terpaksa dihentikan untuk sementara. IBu bos malah asik mengambil gambar aktivitas LUSI yang mengerikan itu, dengan resiko yang cukup tinggi.

Sebenarnya ibu bos juga takut banget dengan kenekatan dia mengambil gambar pada jarak yang kelewat dekat. dia sempat bilang "If I felt into the hot mud, send my love to my husband yah!"...hehehehe...geblek nih cewe...

Tapi gw pikir kenekatannya itu dipicu karena kebutuhan dan momentum yang tepat dan bagus, juga dukungan dari Piet Prins, konsultan Belanda yang diajak Lapindo mengatasi lumpur itu. Cowok bertubuh tinggi besar ini sangat-sangat helpfull, nice and very much polite...
Taking care of person kinda be deh..hehehehe...Thoughtful abiss...

Bule ini kami jemput di Sommer Set begitu kami berkonvoi dengan mobil pak Amin dari Bandara Djuanda. Dari awal dia bikin gw merasa dihargai, dengan mengajak bicara dengan bahasa Inggris, mski Ibu Bos slalu ngajak atau nanya dia dengan Boso Londo. Tuh baek kan ? Jarang-jarang gw nemu Londo yang kayak gini. Dia bikin gw ikut terlibat dan dalam percakapan mereka dengan berbahasa Inggris supaya gw juga ngerti..(Thanks yah Piet)...

Dari sommerset, Pak Amin memilih bergabung dengan mobilku,
sementara Ibu Bos, bergabung dengan mobil Piet.

Perjalanan lancar. Ga ada kendala macam ijin dan birokrasi komplex ga penting itu.
Kami dengan mudah masuk lokasi utama semburan dan mengambil semua gambar yang kami perlukan. Mungkin karena Piet ada bersama kami dan orang-orang Lapindo mengenalnya dengan baik meski dia baru 11 hari disana.

Begitu tiba, gw disambut debu tebal bikin kelilipan juga bau sulfur tidak sedap. Pekerjaan pembuatan tanggul yang jebol rupanya sedang dimulai lagi. Eskavator dan banyak alat berat lainnya sibuk mengangkut tanah dan sedikit material dan batu besar. Jalan tol di kilometer 41 terlihat masih basah terendam sedikit rembesan lumpur, tapi ada alat berat yang mulai mengeringkannya.

Abis itu gw jijik lihat tuh lumpur hitam. Trus jadi Sedih karena banyak rumah dan pabrik terendam juga tanaman mati karenanya.
Kesimpulan sementara gw ...Luas juga area yang terkena luapan lumpur.

Dan ternyata tanggul yang dibangga-banggakan dan berulang kali ditinggikan Lapindo hingga ketinggian 8 meter, untuk menahan luapan lumpur, cuma terdiri dari bahan tanah. Pantes gampang jebol. Tanah biasa gitu loh. Seberapa kuat sih nahan volume lumpur yang 140 m3 per hari nya ?

Tapi....setelah diajak "berpiknik" ga jelas sama teman-teman Londo Piet...Gw baru bener-bener nyadar ternyata luar biasa luas area luapan lumpur itu. dari Kilometer sampai ke Desa Glagaharum...lumpur dimana-mana. Di kawasan pabrik ketinggian lumpur hampir menenggalamkan tiang-tiang listrik dan lampu.
Sawah pun jadi korban. Sawah yang mustinya dipanen dua minggu lagi.
Ludes jadi lumpur hitam.
Tak punya nyawa dan manfaat lagi, meninggalkan geram dan nelangsa para petani.

Rumah penduduk juga ternyata tak cuma terendam lumpur. Air berbau tak sedap berwarna hitam yang pastinya tak sehat, juga ikut menenggelamkan rumah-rumah mereka.

Tapi warga tak punya banyak pilihan. Mereka kehilangan semua harta benda mereka.
Meski jorok dan tak sehat, mereka tetap mencari apa yang masih bisa digunakan.
Bahkan lembaran foto hitam putih yang koyak karena air pun masih berharga.
Setidaknya begitu yang dirasakan ibu Khodijah, warga desa jatiRejo.
bersama putri bungsunya dan suaminya gatot, mereka mengangkuti barang apapun yang tertinggal dalam rumah mereka yang terendan lumpur dan air.

Hati dan pikiran mereka nanar. Lapindo diminta bertanggung jawab. Mengganti rugi semua yang sudah rusak akibat lumpur. Uang kontrak rumah dua tahun sebesar Rp 2 juta, jelas tak sepadan dengan kerugian yang mereka derita.

Lalu apa kata Lapindo ?
GM nya Imam Agustino mengatakan bahwa mereka tengah melakukan their maximum effort to handle this mud problems. Kata MAXIMUM EFFORT ini berulang kali dia tegaskan dalam wawancara dengan kami di sebuah ruangan hotel Shangri-La yang mereka jadikan salah satu tempat koordinasi dan rapat.

He looks serious with his statement, meski gw tau statement dia bahwa sumber semburan lumpur itu bukan berasal dari sumur Lapindo, karena jaraknya 150 meter dari sumur pengeboran mereka, adalah bullshit.
yang menarik dari Imam ini, adalah selain masih sangat muda bin ganteng dan ramah, ternyata bapak yang juga kerja untuk LIPI ini, baru menjabat jd GMnya Lapindo selama 40 hari saja.
Nah Lo....

Well, Yang jelas...gw pesimistis dengan keseriusan Lapindo.
Meski tau mereka lagi kacau balau dan pusing tujuh keliling sama urusan lumpur ini,
gw pikir mereka tetap harus bertanggung jawab dan trully melakukan their optimal effort.
Mudah-mudahan aja sih..skenario menutup sumber luapan dari tiga sumur sekaligus bisa berhasil meski warga harus menunggu tiga bulan lagi upaya itu selesai.
Soal opsi membuang lumpur ke Selat Madura begitu saja karena dinilai tidak mengandung bahan berbahaya, tetap gw tolak.
Yang namanya buang sampah mah dimana-mana kalau tak diolah dengan benar,
pasti merusak alam. Pun, gw masih percaya dengan penjelasan Pak Amin, bahwa ada senyawa logam dalam lumpur yang tidak bisa larut dalam air, dan akan mengambang di permukaannya. dan itu akan membuat matahari tidak bisa menembus dasar laut lalu mematikan biota yang hidup di dalamnya.
Mending lumpurnya dimanfaatkan jadi bahan batu bata atau genteng atau keramik kalau memang benar bisa dilakukan.
tapi sayang, gw belum menemukan hasil kajian unsur-unsur dalam lumpur itu.
apa benar seperti yang disebut pak Amin atau tidak.
Nanti deh ya..klo nemu diinformasikan lagi.

for the time being...TOLAK Lumpur dibuang Ke Laut !!!!















0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home