MY PlaYbOY efforts..
"namun dengan sangat menyesal kami beritahukan bahwa jadwal wawancara tersebut bertepatan dengan kegiatan kami yang telah terencana sebelumnya dan tidak dapat kami tangguhkan."
Kutipan kalimat di atas adalah cuplikan surat dari Redaksi PlayboY Indonesia yang nolak permohonan kantor gw untuk meliput proses penerbitan mereka. selaku wartawan gw antara sedih dan kecewa. perjuangan gw buat sementara berhenti disini. perjuangan yang gw mulai dengan mencari nomor2 telpon Mas Avianto Nugroho, Ponti Carolus, Alfred hingga Erwin Arnada hingga kegiatan lobby-bujuk rayu dan teror serta faks, cuma dapat tanggapan seperti itu.
Pikiran gw sama ibu bos hampir sama. alasan itu cuma dibuat-buat saja...alias ngeles. tapi gw ga puas tentu saja. musti cari tau jawabannya dongs. dan sedikit banyak dapat jawabannya dari seorang rekan disana yg tak banyak bicara.
Jawabannya sederhana, "kita memang blm punya resolusi ttg keterbukaan ke media".
honestly...gw ga tau persis apa maksud kata2 itu. gw lebih diliputi rasa tanya yang besar dan ga habis pikir, ketika TRANS TV lewat program "Fenomena" diberi kesempatan untuk mencari tau kebijakan PlayboY Indonesia.
sempat juga terlintas sebuah pikiran sinis. diskriminasi nih sama media asing ?
abis gw pikir mereka akan lebih open sama media asing krn konsumennya orang luar yang kebanyakan lebih terbuka sama isue penerbitan majalah PlayboY Indonesia....tapi gw bisa jadi salah sama pikiran itu...satu hal pasti yang gw tau dari seorang rekan tadi cuma ini " pikiran itu ada.
tp kan mungkin terdistorsi seiring kesibukan dia".
too bad yah ????
ya sudah lah...break dulu sekarang...
mungkin memang benar kata seorang rekan tadi yang bilang effort gw utk nembus mereka masih sama dgn yang lainnya yang akhirnya gagal...hiks.
padahal gw ngerasa sudah sangat menganggu dia karena teror telpon dan sms setiap harinya. eh dia malah cerita bahwa pernah ada yg minta tolong dia motret situasi kantornya dengan nilai kompensasi 2 juta 1 frame !!!
off course..dia NOLAK dongs ! knapa ? menurutnya "2 jt itu terlalu pintas. baguslah kalo media indo udah berani menawarkan uang untuk mendapat sesuatu yg dia anggap penting. tp lebih bagus lg kalo dia dapat sendiri. nyamar jadi cleaning service atau apa gitu hehe".
menurutnya lagi "cara itu memang kotor dan ga elegan tapi bisa jadi ga menyalahi kode etik. tapi paling tidak cara itu nunjukkin kalau mereka selaku wartawan mau berjuang sekeras mungkin utk mendapatkan sebuah berita".
so...what should i do next ? tetap Berusaha tentunya !
Kutipan kalimat di atas adalah cuplikan surat dari Redaksi PlayboY Indonesia yang nolak permohonan kantor gw untuk meliput proses penerbitan mereka. selaku wartawan gw antara sedih dan kecewa. perjuangan gw buat sementara berhenti disini. perjuangan yang gw mulai dengan mencari nomor2 telpon Mas Avianto Nugroho, Ponti Carolus, Alfred hingga Erwin Arnada hingga kegiatan lobby-bujuk rayu dan teror serta faks, cuma dapat tanggapan seperti itu.
Pikiran gw sama ibu bos hampir sama. alasan itu cuma dibuat-buat saja...alias ngeles. tapi gw ga puas tentu saja. musti cari tau jawabannya dongs. dan sedikit banyak dapat jawabannya dari seorang rekan disana yg tak banyak bicara.
Jawabannya sederhana, "kita memang blm punya resolusi ttg keterbukaan ke media".
honestly...gw ga tau persis apa maksud kata2 itu. gw lebih diliputi rasa tanya yang besar dan ga habis pikir, ketika TRANS TV lewat program "Fenomena" diberi kesempatan untuk mencari tau kebijakan PlayboY Indonesia.
sempat juga terlintas sebuah pikiran sinis. diskriminasi nih sama media asing ?
abis gw pikir mereka akan lebih open sama media asing krn konsumennya orang luar yang kebanyakan lebih terbuka sama isue penerbitan majalah PlayboY Indonesia....tapi gw bisa jadi salah sama pikiran itu...satu hal pasti yang gw tau dari seorang rekan tadi cuma ini " pikiran itu ada.
tp kan mungkin terdistorsi seiring kesibukan dia".
too bad yah ????
ya sudah lah...break dulu sekarang...
mungkin memang benar kata seorang rekan tadi yang bilang effort gw utk nembus mereka masih sama dgn yang lainnya yang akhirnya gagal...hiks.
padahal gw ngerasa sudah sangat menganggu dia karena teror telpon dan sms setiap harinya. eh dia malah cerita bahwa pernah ada yg minta tolong dia motret situasi kantornya dengan nilai kompensasi 2 juta 1 frame !!!
off course..dia NOLAK dongs ! knapa ? menurutnya "2 jt itu terlalu pintas. baguslah kalo media indo udah berani menawarkan uang untuk mendapat sesuatu yg dia anggap penting. tp lebih bagus lg kalo dia dapat sendiri. nyamar jadi cleaning service atau apa gitu hehe".
menurutnya lagi "cara itu memang kotor dan ga elegan tapi bisa jadi ga menyalahi kode etik. tapi paling tidak cara itu nunjukkin kalau mereka selaku wartawan mau berjuang sekeras mungkin utk mendapatkan sebuah berita".
so...what should i do next ? tetap Berusaha tentunya !
