How ObjeCtiVe YoU CaN Be ?
SEnja itu, sebuah pelajaran didapat.
Bahwa sebagian besar orang begitu mudah menilai orang lain hanya dari permukaan saja.
Dari apa yang tampak di luar. Kesan pertama yang tertinggal.
Dan bahwa penampilan menjadi tolak ukur utama yang menentukan penilaiannya.
dan Kami(aku dan sahabatku Ari) masih termasuk di antara mereka...
so how do You start to be more objective about others people appearance ?
begini critanya...
Jumat sore itu, kami menyusuri gang demi gang jalan Kayu Manis-Penggalang-Proklamasi-
demi menemukan tempat huni baru yang akan kami tinggali.
Letih sekali kaki ini...ternYata stamina kami tak seperti masa kami masih jd mahasiswi yang rela jalan kaki alias long march sekitar 35 km dari Tawang Mangu-Kentingan Solo.
dari pencarian ini, ada saja kejadian lucu,agak spooky dan aneh serta mengesalkan.
Pertama-tama, kami sempat Dicurigai oleh pemilik kost dengan tatapan penuh selidik ...
pemilik kost ini mempertanyakan soal asal usul kami dengan kata-kata seperlunya. sikapnya agak kaku karena lebih sering menggunakan kalimat pendek ketika bertanya. Pdahal kami merasa cukup sopan dan halus ketika melihat kondisi rumah yang mungkin akan kami tempati.
Yang lucu dan bikin shock, adalah ketika kami tiba-tiba disodok pertanyaan tak penting dari seorang perempuan berjaket Pemuda Pancasila. Perempuan berpenampilan "sangat laki" dengan berbagai macam kalung dilehernya ini, mengaku sebagai penjaga kost yang kami lihat di jalan Penggalang.
kami shock karena kami yang tidak melihat dia sebelumnya dan sedang berjalan keluar dari gang kost itu berada, tiba-tiba ditanya dengan pertanyaan " Barusan dari atas ? "
Wow...kaget dong..."Sapa ni ? Ngomong sama kita nih ? Emang kita kenal yak ? Kapan Kita kenalnya ? Kok dia bisa tau kita tadi lihat kamar atas yak ? Salah apa yak lihat kamar di atas tanpa permisi dulu dengannya ? Waduh !!!!"
Itu deh sejumlah pertanyaan yang muncul di kepala kami, akibat pertanyaan ujug-ujug tadi.
Tapi ga sempat terucap. Cukup lewat ekspresi muka kami yang pastinya terbengong-bengong ga karuan karenanya..hehehehe.....
Akhirnya kami cuma bisa menjawab dengan nada ragu "Iya".
TRus dia bertanya lagi "Ada yang nganter ga ?" Kami jawab "Enggak".
Eh perempuan ini malah nyerocos "Dasar gila tuh cewe yang duduk di depan ! Bukannya kasih tau kamar mana aja yang kosong malah cuek aja. Emang baru keluar adri Rumah sakit Jiwa tuh orang !"
Begitu dia menutup percakapan dengan kami sembari ngeloyor pergi meninggalkan kami yang masih juga terheran-heran. Tapi kami jadi mengerti siapa yang sebenarnya Gila dalam hal ini..hihihi....
Kejadian agak menyebalkan, kami temui lagi ketika kami mengunjungi lokasi kost di tepat jalan Proklamasi. Disini kami langsung diusir pergi oleh penjaga kost dengan "cara khusus"-nya. Melihat tampang kami yang lecek turun dari bajaj, dia tak ambil peduli dengan sejumlah pertanyaan yang kami ajukan tentang tempat itu. Dia pikir dia bisa langsung menutup percakapan dengan menyebut harga Rp 1 JUta rupiah untuk sewa sebulan kamar dengan fasilitas AC itu.
"Wow...bapak penjaga yang berdagang makanan siap saji berbaju batik itu, rupanya menilai kami tak mampu membayar sewa sebenarnya tempat ini," pikir kami. Alih-Alih menyebut harga sewa yang sebenarnya, dia pilih menyebut angka yang jelas sangat tak masuk akal untuk fasilitas yang ditawarkan. Pun, aku sendiri sudah sempat mengantongi harga sewa tempat itu dengan menelpon sang pemilik rumah sebelumnya. Harga sewa sebenarnya cuma Rp. 350 ribu/bln. Tapi si bapak penjaga memilih untuk berbohong dan menambahnya dengan mengatakan baru saja dihuni, beberapa saat sebelum kami tiba. Ugh...Such A Big LiaR !!! Apa sih maksudnya bersikap seperti itu ? Pliss deh....
Dengan bersungut-sungut, kami bergegas pergi. Tapi sebelumnya, satpam penjaga kost yang sama berbaik hati memberitahukan lokasi kost lain yang bisa kami kunjungi. Kami pun berterima kasih dan melangkahkan kaki menuju belakang kantor Majalah Tempo, masih di jalan Proklamasi.
Kesan yang bapak satpam ini tinggalkan sangat menyakinkan. Dia memastikan supaya kami cukup bertanya rumah Pak RT, untuk menemukan lokasi yang dimaksud.
Tapi yang kami dapat hanya respon dingin tak acuh dari Pak RT. Kami akhirnya malah diantar dengan seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan mirip perempuan penjaga kost di jalan penggalang. Namanya tante Eny. Kami sempat berpikir..."Jangan-jangan ibu ini sama perilakunya dengan yang tadi kami temui", ketika kami dibuat keheranan karena diminta menunggu kepulangan sang pemilik kost yang tak pasti.
untungnya sang anak laki-laki pemilik kost memberi tau kalo ibunya belanja ke HERO. seketika kami smua sadar bahwa ini akan makan waktu lama. dan tante Eny pun menunjukkan dua tempat lain lalu meninggalkan kami tanpa meminta imbalan yang semula kami pikir terpaksa harus kami berikan padanya.
MAAF ya Tante Eny...ternyata anda memang niat membantu. Maaf atas prasangka kami.
So...the journey berakhir sampai disitu. Di ujung jalan Tambak, penuh kelelahan-keringat-dan basuhan teh botol sosro di tenggorokan, kami berbincang-merewind-mendiskusikan dan menyimpulkan apa yang kami alami hari itu.
Kami pikir sikap tak ramah sejumlah orang yang kami temui, dikarenakan penampilan kami yang lusuh.
Belum lagi dengan tas daypack lumayan besar yang aku bawa kemana2 karena sedang "lari"..hihihi...
Wajar dan bisa dimaklumi sih...Tapi yah itu tadi, mengesalkan juga lah.
Emang salah ya berpenampilan tak terlalu rapi ?
Buatku sih, penampilan kami masih cukup baik. Bercelana jeans dan berkaos, cukup baik dan sopan kan ?
Lusuh yang kami muncul, kan karena kelelahan kami berjalan kaki dari gang ke gang mensurvey rumah-rumah sewa...Berkeringat dan lengket tertinggal di wajah kan wajar to ?
tapi entah ya kalo menurut kamu-kamu semua ?
Pun akhirnya kami juga disadarkan dengan perilaku buruk kami ketika menilai buruk Tante Eny..
ternyata orang kebanyakan masih suka menilai orang lain dari tampak luarnya saja.
Terus gimana dengan istilah "DOnt Judge The BooK From Its CoveR ?"
Tinggal istilah aja yah ?
Waduh !!!!!!!!!!!
Bahwa sebagian besar orang begitu mudah menilai orang lain hanya dari permukaan saja.
Dari apa yang tampak di luar. Kesan pertama yang tertinggal.
Dan bahwa penampilan menjadi tolak ukur utama yang menentukan penilaiannya.
dan Kami(aku dan sahabatku Ari) masih termasuk di antara mereka...
so how do You start to be more objective about others people appearance ?
begini critanya...
Jumat sore itu, kami menyusuri gang demi gang jalan Kayu Manis-Penggalang-Proklamasi-
demi menemukan tempat huni baru yang akan kami tinggali.
Letih sekali kaki ini...ternYata stamina kami tak seperti masa kami masih jd mahasiswi yang rela jalan kaki alias long march sekitar 35 km dari Tawang Mangu-Kentingan Solo.
dari pencarian ini, ada saja kejadian lucu,agak spooky dan aneh serta mengesalkan.
Pertama-tama, kami sempat Dicurigai oleh pemilik kost dengan tatapan penuh selidik ...
pemilik kost ini mempertanyakan soal asal usul kami dengan kata-kata seperlunya. sikapnya agak kaku karena lebih sering menggunakan kalimat pendek ketika bertanya. Pdahal kami merasa cukup sopan dan halus ketika melihat kondisi rumah yang mungkin akan kami tempati.
Yang lucu dan bikin shock, adalah ketika kami tiba-tiba disodok pertanyaan tak penting dari seorang perempuan berjaket Pemuda Pancasila. Perempuan berpenampilan "sangat laki" dengan berbagai macam kalung dilehernya ini, mengaku sebagai penjaga kost yang kami lihat di jalan Penggalang.
kami shock karena kami yang tidak melihat dia sebelumnya dan sedang berjalan keluar dari gang kost itu berada, tiba-tiba ditanya dengan pertanyaan " Barusan dari atas ? "
Wow...kaget dong..."Sapa ni ? Ngomong sama kita nih ? Emang kita kenal yak ? Kapan Kita kenalnya ? Kok dia bisa tau kita tadi lihat kamar atas yak ? Salah apa yak lihat kamar di atas tanpa permisi dulu dengannya ? Waduh !!!!"
Itu deh sejumlah pertanyaan yang muncul di kepala kami, akibat pertanyaan ujug-ujug tadi.
Tapi ga sempat terucap. Cukup lewat ekspresi muka kami yang pastinya terbengong-bengong ga karuan karenanya..hehehehe.....
Akhirnya kami cuma bisa menjawab dengan nada ragu "Iya".
TRus dia bertanya lagi "Ada yang nganter ga ?" Kami jawab "Enggak".
Eh perempuan ini malah nyerocos "Dasar gila tuh cewe yang duduk di depan ! Bukannya kasih tau kamar mana aja yang kosong malah cuek aja. Emang baru keluar adri Rumah sakit Jiwa tuh orang !"
Begitu dia menutup percakapan dengan kami sembari ngeloyor pergi meninggalkan kami yang masih juga terheran-heran. Tapi kami jadi mengerti siapa yang sebenarnya Gila dalam hal ini..hihihi....
Kejadian agak menyebalkan, kami temui lagi ketika kami mengunjungi lokasi kost di tepat jalan Proklamasi. Disini kami langsung diusir pergi oleh penjaga kost dengan "cara khusus"-nya. Melihat tampang kami yang lecek turun dari bajaj, dia tak ambil peduli dengan sejumlah pertanyaan yang kami ajukan tentang tempat itu. Dia pikir dia bisa langsung menutup percakapan dengan menyebut harga Rp 1 JUta rupiah untuk sewa sebulan kamar dengan fasilitas AC itu.
"Wow...bapak penjaga yang berdagang makanan siap saji berbaju batik itu, rupanya menilai kami tak mampu membayar sewa sebenarnya tempat ini," pikir kami. Alih-Alih menyebut harga sewa yang sebenarnya, dia pilih menyebut angka yang jelas sangat tak masuk akal untuk fasilitas yang ditawarkan. Pun, aku sendiri sudah sempat mengantongi harga sewa tempat itu dengan menelpon sang pemilik rumah sebelumnya. Harga sewa sebenarnya cuma Rp. 350 ribu/bln. Tapi si bapak penjaga memilih untuk berbohong dan menambahnya dengan mengatakan baru saja dihuni, beberapa saat sebelum kami tiba. Ugh...Such A Big LiaR !!! Apa sih maksudnya bersikap seperti itu ? Pliss deh....
Dengan bersungut-sungut, kami bergegas pergi. Tapi sebelumnya, satpam penjaga kost yang sama berbaik hati memberitahukan lokasi kost lain yang bisa kami kunjungi. Kami pun berterima kasih dan melangkahkan kaki menuju belakang kantor Majalah Tempo, masih di jalan Proklamasi.
Kesan yang bapak satpam ini tinggalkan sangat menyakinkan. Dia memastikan supaya kami cukup bertanya rumah Pak RT, untuk menemukan lokasi yang dimaksud.
Tapi yang kami dapat hanya respon dingin tak acuh dari Pak RT. Kami akhirnya malah diantar dengan seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan mirip perempuan penjaga kost di jalan penggalang. Namanya tante Eny. Kami sempat berpikir..."Jangan-jangan ibu ini sama perilakunya dengan yang tadi kami temui", ketika kami dibuat keheranan karena diminta menunggu kepulangan sang pemilik kost yang tak pasti.
untungnya sang anak laki-laki pemilik kost memberi tau kalo ibunya belanja ke HERO. seketika kami smua sadar bahwa ini akan makan waktu lama. dan tante Eny pun menunjukkan dua tempat lain lalu meninggalkan kami tanpa meminta imbalan yang semula kami pikir terpaksa harus kami berikan padanya.
MAAF ya Tante Eny...ternyata anda memang niat membantu. Maaf atas prasangka kami.
So...the journey berakhir sampai disitu. Di ujung jalan Tambak, penuh kelelahan-keringat-dan basuhan teh botol sosro di tenggorokan, kami berbincang-merewind-mendiskusikan dan menyimpulkan apa yang kami alami hari itu.
Kami pikir sikap tak ramah sejumlah orang yang kami temui, dikarenakan penampilan kami yang lusuh.
Belum lagi dengan tas daypack lumayan besar yang aku bawa kemana2 karena sedang "lari"..hihihi...
Wajar dan bisa dimaklumi sih...Tapi yah itu tadi, mengesalkan juga lah.
Emang salah ya berpenampilan tak terlalu rapi ?
Buatku sih, penampilan kami masih cukup baik. Bercelana jeans dan berkaos, cukup baik dan sopan kan ?
Lusuh yang kami muncul, kan karena kelelahan kami berjalan kaki dari gang ke gang mensurvey rumah-rumah sewa...Berkeringat dan lengket tertinggal di wajah kan wajar to ?
tapi entah ya kalo menurut kamu-kamu semua ?
Pun akhirnya kami juga disadarkan dengan perilaku buruk kami ketika menilai buruk Tante Eny..
ternyata orang kebanyakan masih suka menilai orang lain dari tampak luarnya saja.
Terus gimana dengan istilah "DOnt Judge The BooK From Its CoveR ?"
Tinggal istilah aja yah ?
Waduh !!!!!!!!!!!
