Thursday, July 26, 2007

WellComE- GooDByE ?

Hi Friends
TrYing to managed and replace this old blog with the new one
But so faR its still n progress of the deasign
Hopefully..in the next few week, you can see a new professional blog of mine.

Wish me Luck !

Miss You All...

X
@

Monday, November 06, 2006

DENIAS-Sukseskan ProgramWajib BeLlajaR



DENIAS-SENANDUNG DIATAS AWAN-

Film yang cantik ! Juga Mendidik !

Buat penggemar film yang doyan blanja mata...
Silakan nonton film ini. Dijamin terpuaskan hasrat kalian deh.*halah malah promosi

Bikin wow-wow abis dah. MUlut gw aja ga habis berdecak kagum..
Terpesona dengan kemurahan hati film maker yang membanjiri penontonnya dengan shooting di tempat2 nan indah.
Awan nan biru...Padang rumput nan hijau bin luas, Lembah nan elok...Danau di senja hari..
juga puncak JayaWiJaya...bikin gw terperanga dan rindu berpetualang di alam.
*Pasti pakai riset yang matang kan buat menentukan tempat2 indah buat shoot film ini dongs...
Salut deh !

Komentar gw sih, Pantes aja biaya pembuatannya mahaL..
Pengambilan gambarnya butuh waktu berhari2 bo' biar dapaet tuh sunrise dan sunset.
juga kus kus di hutan Papua *jadi penasaran brapa hari ya yang dihabiskan sang juru kamera buat dapet gambar itu ? gw aja 3 hari di hutan Leuser cuma dapaet gambar monyet doangs...huhuhuhu...

Belum lagi gambar Denias lari-lari di atas bukit.
So pasti ngambilnya pake heli dongs. Brapa dananya tuh bayar heli nya ? Ga mungkin kan ambil gambarnya satu kali take ? Sayang..kualitas gambarnya ga perfect..masih goyang tuh...huhuhu...

Well...secara teknis..menurut gw film ini lebih layak dapat penghargaan "Best Picture ", daripada film "HeaRT". Tingkat kesulitan dan banyaknya gambar bagus yang disajikan dalam DEnias jauh lebih unggul.

SEcara akting, cuma Enos dan Noel yang kuat karaktenya.
Akting mathias Muchus yang hitungannya kawakan pun terasa mentah.
tak jelas karakternya sebagai guru bantu di desa Denias.
Cuma sambil lalu...sayang sebenarnya.

Trus ada juga beberap scene yang tak penting atau bahkan scene yang kurang guna menggambarkan bagaimana niat kuat Denias untuk bersekolah itu muncul.
Katakan niat itu muncul dari sang bunda, film ini hanya menyajikan 2 scene dimana Denias diberi wejangan oleh sang Bunda untuk bersekolah. Scene ini mau bercerita soal kedekatan mereka. Tapi menurut gw sih terlalu dangkal untuk memperkuat kesan ke penonton bahwa saking dekatnya kedekatan ibu dan anak itu, memotivasi kuat Denias untuk bersekolah.

Lalu ada juga tokoh Maleo. Janggal rasanya melihat tentara dari Koppasus yang berpangkat lumayan tinggi macam Maleo, hidup di desa terpencil tempat Denias berada. Setau gw sih mereka tinggal bareng2 di barak atau asrama.

Lucunya scene dimana Maleo harus pergi dari desa itu. Aduh...Its so Rambo style banget deh...hehehehe...

Nah kalo soal isi...Bagus ! Wajib tonton !
Ceritanya sederhana aja sih menurut gw. Cuma mau kasih tau gimana sulitnya seorang anak petani di pedalaman Papua yang harus berjuang keras demi bersekolah. Demi memakai seragam Merah Putih ! Pun sekolah dengan segala fasilitas macam yang ada di PUlau Jawa, cuma ada di kompleks PT Freeport Indonesia. Scene ini cukup masuk akal.

Lucu juga sebenarnya melihat fenomena yang coba ditawarkan film ini.
SEmpat malu sama diri sendiri.
Sempet juga nyaris ter-mehe-mehe...Tersentuh euy dengan scene dimana Enos..teman jalanan Denias, menempuh jarak nan jauh mendaki gunung menyebrangi danau, jatuh bangun terguling-guling untuk mengambil raport di rumahnya.
Scene yang cerdas dan mengelitik. SEtelah sempat lela dan bosan dengan alur cerita yang lambat, munculnya tokoh Enos mengubah ritme ini dan membuat gw sebagai penonton jadi lebih enjoy dengan film ini.

Well, kalau ingat jaman berseragam Merah Putih...
Gw ga punya rasa bangga dengan seragam seperti yang dimiliki Denias.
Biasa aja tuh. Malah Tersiksa..hihihihi...
Eh si Denias ini juga temen2nya ampe pake tuh seragam buat bobo....

So gw pikir ini film Wajib Tonton bagi anak2 sekolah di kota macam Jakarta ini.
Juga buat anak-anak yang hitungannya relatif mudah untuk bersekolah.
Saran gw sih..Depdiknas sangat punya tanggung jawab untuk mengenalkan film ke anak2 sekolah. Biar mereka sadar bahwa di belahan Papua, anak2 seperti Denias masih sulit untuk bersekolah. Biar anak2 yang nonton film ini, terpicu untuk lebih menghargai pentingnya Bersekolah itu.

Gw pikir anak2 sekolah sudah jenuh dengan nasehat guru atau orang tua, supaya mereka rajin belajar dan masuk sekolah. Ajak mereka menonton film ini, supaya mereka melihat dan mencerna sendiri akan arti SEkolah dan pendidikan. Mereka butuh teman sebaya untuk membagi hal itu. Dan gw pikir film ini sangat bisa membantu suksesnya Program Pemerintah dalam bidang pendidikan "Wajib Belajar 9 tahun.

Tokh...belum ada film sejenis yang mendidik macam Denias ini.
Maka manfaatkanlah yang ada.

SelamaT MenontoN !



Friday, September 22, 2006

Death RoW Vs HuMaN Rights

KepergiaN raga mereka ikut ditangisi bumi..
Perih pasti rasanya ditinggal pergi
Sedih, lalu jadi Emosi
Mana Keadilan bagi kami ?

*************************************************
"The death penalty is the ultimate cruel, inhuman and degrading punishment.
It violates the right to life." (Amnesty International)

Memantau dan mengamati hampir setiap perkembangan pelaksanaan hukuman mati bagi Om Tibo, Marinus dan Domi, jadi satu hal yang begitu menyesakkan ternyata. Gw sempat dapat tuduhan pro eksekusi oleh seorang rekan jurnalis, hanya karena gw tidak menunjukkan simpati gw dengan berada di Palu.

Jujur gw ga ambil pusing soal tuduhan itu. Sebagai jurnalis, kata bos gw kita dituntut untuk netral. Tapi buat gw pribadi, sah sah saja kita sebagai individu punya keberpihakan dalam bersuara atas nama pribadi. Namun kalau soal produk yang kita hasilkan seperti berita dalam cetak-suara-gambar dan suara, jurnalis tetap harus obyektif. HARAM hukumnya punya keberpihakan ! Cover both side !

Mendapat tuduhan seperti tadi yang gw sebutkan bukan satu hal yang menyesakkan sekali sebenarnya. Ada banyak hal yang gw temukan dalam mengulik-ulik isue ini, yang bikin gw ngurut dada. Dan itu adalah fakta soal pemerintah begitu ngotot dan keras kepala untuk mengeksekusi ketiganya meski sempat beberapa kali tertunda.

Gw pikir sikap pemerintah itu, didorong oleh motif legalisasi terhadap eksekusi terhadap para terpidana mati kasus Bom Bali, Amrozi dan kawan kawan. Eksekusi terhadap Om Tibo dkk, cuma jadi pintu masuk bagi eksekusi para terpidana kasus Bom Bali yang mendapat cap teroris oleh Amerika Serikat. Dengan mengeksekusi Tibo, maka pemerintah punya semacam keabsahan untuk mengeksekusi Amrozi dkk. Barter yang sangat murah, begitu komentar bos gw. Padahal ini soal nyawa. Soal hak hidup setiap manusia di muka bumi...begitu komentar gw.

Well...bicara soal hukuman mati. Mau pake dasar apapun, gw tetap menolaknya !
Buat gw ga ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang punya hak untuk mengambil hidup orang lain.
Tuhan yang menciptakan manusia, meniupkan roh dan memberikan nyawa bagi manusia untuk hidup.
Maka Tuhan pula lah yang punya hak untuk mengakhiri apa yang Dia berikan itu.

Harus diingat juga bahwa setiap Manusia pasti punya salah.
Setiap manusia juga termasuk Hakim, polisi, jaksa atau saksi di pengadilan.
Kalau Tuhan punya sifat Maha Pengasih, Penyayang dan Pemaaf,
kenapa manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya justru mengabaikannya ?
Memaksakan diri dipenuhi dengan kebencian. Tak membekali diri dengan sikap memaafkan.
Aduh...sediH.

Pun...Death Row has never been shown to deter crime more effectively than other punishments,
begitu tulis Amnesty International dalam website mereka.

Kenapa Indonesia masih saja memberlakukan aturan warisan Londo yang disahkan tahun 1918 dengan nama Wetboek van Strafrecht alias KUHP ini ?

Padahal dewasa ini, bagi kebanyakan negara, hukuman mati sudah dianggap kejam dan takmanusiawi.
Hingga 9 Desember 2002 tercatat telah 149 negara melakukan ratifikasi/aksesi terhadap kovenan ini. Khusus terhadap penghapusan hukuman mati, 49 negara telah pula melakukan ratifikasi/aksesi terhadap Second Optional Protocol of International Covenant on Civil and Political Rights-ICCPR (1990) Aiming of The Abolition of Death Penalty. Pada bagian III, Pasal 6 (1), kovenan ini menyebutkan bahwa :
" Setiap manusia berhak atas hal untuk hidup dan mendapatkan perlindungan hukum
dan tiada yang dapat mencabut hak itu."

Dan Indonesia masih masuk dalam negara yang masih menganut hukuman mati.
Aduh..Aduh...


PS : Gambar diatas adalah Peta Hukuman mati di seluruh dunia.
Biru: dihapus untuk semua kejahatan
Hijau: dihapus untuk kejahatan biasa tetapi tidak untuk luar biasa (perang)
Oranye: secara praktis telah menghapus
Merah: masih dilakukan











Tuesday, September 12, 2006

D.T.K



Gara-gara ambruk nyaris semaput, gw ga sengaja nonton sinetron mak.
(Sinetron gitu loh..barang haram yang paling gw hindari kecuali buat dicaci tentunya..hihihihi…)

Malam minggu jam 21.00 WIB, nongol di layar kaca RCTI, sembari berkegiatan kerok-mengkerok, gw nonton sinetron ini. Sinetron yang digembar-gemborkan sebagai sebuah serial TV yang lain daripada yang lain atau bahkan disebut Sejarah baru prime time.(Deuh segitunya…)

Jujur sih gw ga tau kalau DUNia Tanpa KOma (DTK) adalah sebuah sinetron. Gw pikir itu film barunya Dian Sastro yang diperankan sama banyak pemeran film terkenal lainnya. Sekelebatan doangan sih liat wawancara infotainment sama Dian di TV. Wajar kan gw ga tau bgitu. Trus payahnya gw ga nggeh juga, ketika ada banyak ikon merah dengan tulisan DTK di pinggir kanan atas, di setiap tayangan program RCTI yang gw tonton.

Gw baru bener-bener nyadar yah pas malam minggu itu, pas mba Andru yang lagi asik “melukis” badan gw, langsung nyomot remote sambil nyerocos “ Eh Dunia tanpa Koma”.

Wacks !!! Baru nyadar deh gw…”Ow….sekarang tho’ tayangnya.
Gw pikir film…ternyata sinetron yak ? hehehehehehe……”

Well….melihat DTK meski ga penuh satu setengah jam…mulai kumat deh jiwa nyela gw.
Bener-bener gw amati tuh sinetron scene by scene-nya. And my general comment is NOT BAD.

Tapi secara gw kritis…(deuh..kritis ape doyan nyela’..hihihi…), gw masih uring-uringan sama scene ketika Bayu, sang redaktur pelaksana Majalah Target yang diperankan Tora Sudiro, seenaknya saja memindahkan anak buahnya ke desk lain karena ga dapet berita yang sama seperti yang di dapet Bramantyo, wartawan harian saingan mereka yang diperankan Fauzi Baadila.

Ngomel-ngomelan lah gw pas scene itu muncul. Ga segitunya deh yang namanya kebijakan redaksi. Ga seenak udelnya gitu. Ga demokratis sama sekali. Otoriter sekali redaktur pelaksana dalam rapat redaksi macam itu.

Secara gw wartawan yang kerja dan terlibat dalam rapat redaksi, gw pikir scene itu patut dipertanyakan. Gw masih yakin, tidak sedemikian vulgar keputusan memindahkan desk satu atau dua reporternya gara-gara dia ga dapet berita besar. Kalau pun ada keputusan seekstrim itu, itu diputuskan dalam rapat para big bos alias rapatnya redaktur, editor, dan pemimpin perusahaan.

Memindahkan SDM ke desk lain bukan suatu keputusan instant macam itu. Perlu ada evaluasi terlebih dulu, apa keputusan itu perlu diambil atau tidak. Tapi memang ada juga beberapa perusahaan pers yang gw tau memang punya kebijakan rolling desk setiap 3 atau 6 bulan sekali kepada reporternya. Gw sendiri juga sempet ngalamin kok. Dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan atau mudah atau instant untuk diputuskan.

So wajar dong gw terganggu dong dengan scene itu…(ciee…pembelaan diri..hihihihi..)

Gimana ga terganggu coba ? Scenarionya ditulis sama mbak Leila S. Chudori. Seorang wartawan kawakan bidang sastra yang kerja buat TEMPO-institusi yang punya wibawa dan track record bagus-. 16 tahun mengabdikan diri sebagai wartawan, gw pikir mbak Leila sangat tau soal keputusan memindahkan reporter ke desk lain dong.

Juga soal scene dimana Slamet Rahardjo, sang pemimpin redaksi marah ga keruan gara-gara harian saingannya dapet berita dan mereka tidak. Ada gitu yah ? Yang gw tau sih paling marahnya dalam bentuk halus tapi sama menyakitkannya kok. Bentuknya lebih kepada teguran yang tajam dan nyelekit. Yah..setidaknya begitu yang gw tau dan alami. Tidak dengan cara teriak-teriak macam itu. Its so Murphy Brown banget deh….

Yah akhirnya gw pikir dan mengalah pada penjelasan mbak Leila bahwa sinetron ini adalah cerita fiktif. So gw coba memaklumi bahwa tetap ada beberapa hal nyata dalam kehidupan kita yang dilebih-lebihkan untuk menciptakan suasana yang lebih mengundang perhatian penonton. Tapi lagi-lagi secara gw wartawan, gw tetep aja protes..hehehehe….

Abis kalau benar kata mbak Leila bahwa suasana di majalah Tempo,saat sebelum dibredel di awal tahun 90an, sangat mempengaruhi proses kreatifnya membuat scenario sinetron ini, gw jadi bertanya-tanya lagi tentunya. “Emang suasana Tempo awal 90-an, pake acara keputusan otoriter bin instant pemindahan reporter ke desk lain yak ?”

Oh iya. Ada satu scene lagi yang menganggu lagi buat gw. Scene dimana Dian berangkat kerja ke kantor dengan mengendarai sepeda ontel lalu berganti pakaian di toilet lalu menjadi cantik setelahnya.

Sekonyong-konyong..mulut gw berkomentar dong…”Taela…luar negri banget yak scene-nya. Mana ada wartawan cewek yang pergi ke kantor naek sepeda goes goes ke kantor di Jakarta nan panas bin berdebu ini ?”

Tapi kalau bener ada mah…sok atuh kasih tau gw yak…
Yang gw tau dan kenal dari temen2 wartawan cewe gw yang latar belakang materinya berkecukupan seperti tokoh yang diperankan Dian, rata-rata pada naek mobil atau angkutan umum.

Well…its not that I don’t appreciate this drama series.
Lumayan bagus kok buat pencerahan dunia persinetronan kita yang belakangan didominasi dengan tayangan soal ajaran islam yang dilanggar dan pasti dihukum berat sama Tuhan..(Ih….sebel ! Bikin Islam jadi agama yang mengerikan deh. Bikin Allah jadi jahat banget gitu. Padahal Allah kan Maha PEnyayang dan Pemaaf).

Soal judul yang disebut sebagai gambaran dunia jurnalistik berita yang tanpa jeda, yang tak memiliki "jam kerja" yang ketat 9 to 5 seperti profesi lain, gw ga ada masalah. Meski memang harus keep alert dan bersedia tetap bekerja pada jam-jam gila, dunia ini masih ada jeda nya juga kok kadang.

Tapi kalau gw boleh saran sih..tayangan DTK ini kan juga tujuannya guna mendidik masyarakat kita. Mbok ya..dibikin lebih pas dengan realita yang ada dalam dunia jurnalistik. Kan mbak Leila bilang, dia bikin sinetron ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap tayanganTV Indonesia….(cie…cie…cari dukungan..hehe…)

Bikin realitas soal dunia kewartawanan yang lebih nyata dong. Biar image wartawan yang sekarang masih cenderung negative di mata masyarakat, bisa disajikan lebih utuh.


Salam…

Monday, September 11, 2006

F.R.E.E

I want to break free
I want to break free
I want to break free from your lies
You're so self satisfied I don't need you
I've want to break free
God knows, God knows I want to break free

I've fallen in love
I've fallen in love for the first time
And this time I know it's for real
I've fallen in love, yeah
God knows, God knows I've fallen in love

It's strange but it's true
I can't get over the way you love me like you do
But I have to be sure
When I walk out that door
Oh how I want to be free, baby
Oh how I want to break free,
Oh how I want to break free

But life still goes on
I can't get used to, living without, living without,
Living without you by my side
I don't want to live alone, hey
God knows, got to make it on my own
So baby can't you see
God knows, gods know, gods know
I've want to break free


***********************************************

Lagu yang tiba-tiba muncul
Mungkin ini pilihan solusi
Teriakan dalam hati atas ketidakpastian ini..

Yeah..I just want to Break Free...

Monday, September 04, 2006

ChaPteR IV

Kenapa Rasa ini menjaDi begitu SakiTT
KeNapa OTaK ini jaDi bgitu kosong
meski kadang ia begitu LiaR menGembaRa.
BicaRa soal DusTa-MisTrusT-LosinG Faith
aTau kadaNg soaL CINTA

PUTusKan !
RamPungKaN !
LaLu JatUH
GELAP-
PengAP-
TaK BERdaYa

LaLu CERaH
dan HIDUP LAGI
Meski Tak Sama Lagi....

=================================================

Tangis itu akhirnya pecah juga.
Semua Yang berhasil dengan rapi disembunyikan dan dialihkan tak mampu lagi bertahan.
Teriakan dalam hatinya kini berujung pada tetes airmata.
Tak jelas penyebabnya.
Aku hanya menyerah tanpa daya.
menyembunyikan Lara dalam toilet sendiri dan sepi
Ragu dan tak MengerTI apa Yang TengaH TErjadi

Mungkin ini soal ketidak berdayaan dan semua yang tiada terJawaB.
entaH...
Mungkin juga soal Iri dengan smua Kisah CINTA yang salinG MembaGI
Atau ini sebenaRnya soaL "Aku DitinggaLkan Lagi"

tak BerjaWaB
Cuma Bisa MenanTi tak Pasti
dan MengHitunG Hari...
Lalu Bertanya Lagi "Kau Bawa PulaNG lagi Cintamu itu Lelaki ?"

Tetap senyap
Tak Ada SahUTaN...
TELaGa tak Lagi PUnya PengHuni...

Friday, September 01, 2006

9 Jam bersama "LUSI"


wo....Wo...Wo...WOOOOO.....(baca kayak Sinchan yang lagi tersepona dan kaget ketakutan ga keruan yah..hihihi...)

Gitu deh komentar yang bisa keluar dari mulut gw.
MenGamaTi dan melihat aktifitas "LUSI" dari jarak sejengKaL doang. LIVE view and RepoRt plus pake acara nyaris kecemPlung puLa..alamaT NyusuL MarilYn MOnroe deh..hehehe...
Gw bener-bener ngeri liat kondisi disana..

"LUSI" itu kependekan dari LUmpuR Panas SidoaRdjo.
Tau dong apa yang terjadi disana sejak Mei 2006 lalu...
Ini link-nya deh klo belon tau(ckckckck)....
http://id.wikipedia.org/wiki/Semburan_lumpur_panas_di_Sidoarjo

Istilah"LUSI" ini diperkenalkan Pak Amin Widodo, geolog lulusan UGM yang jadi salah satu nara sumber liputan kami(NOS TV-http://www.nos.nl/nos/voorpagina/).
pak Amin yang kini jadi salah satu pengajar di fakultas Teknik Sipil ITS ini, banyak membagi pengetahuannya soal "LUSI" ini.

Dia bilang LUSI muncul karena aktivitas eksplorasi oleh PT Lapindo Brantas di tanah yang dinamik dimana banyak terdapat rekahan dan mengandung kadar minyak dan gas bertekanan tinggi. Tanah ini dia ibaratkan seperti balon berisi tekanan tinggi. Balon itu kemudian pecah karena ditusuk oleh mata bor yang dipakai oleh Lapindo untuk mengekplorasi tanah itu. Nah..karena pengeboran tidak dilakukan sesuai prosedur seperti tidak memasang casing(selubung bor) ada kedalaman 4200-9000 kaki, maka lumpur panas yang keluar sebagai dampak pengeboran itu, naik ke permukaan tanah.

Lumpur juga jadi menyebar ke lubang-lubang lainnya karena lumpur ini mencoba mencari jalan keluar dari tekanan yang tinggi di bawah tanah. Lumpur ini pun akhirnya menemukan jalan keluar lewat jalur rekahan yang banyak terdapat di tanah tempat pengekplorasian dilakukan.

(Wait...pada bosen dan ga tertarik yah sama info serius ini yah ? Maafkan..hehehe....)

Jujur..sepanjang 3 bulan cuma bisa melihat dari layar kaca soal aktivitas LUSI ini, gw dibikin semakin penasaran sama kondisi nyatanya di lapangan. Rasanya ga afdol dong kalao ga lihat sendiri. Untungnya ibu bos, dapat approval untuk liputan LUSI ini. Meski dah telat dan gw nyaris keabisan energi sama urusan bikin Film "Peace In Aceh", feature "Pasukan Garuda" dan terus memantau eksekusi Om Tibo, we finallY go there on Thursday, 31 Agustus 2006.

Peliputan dipatok kelar seharian itu. Kami harus dapat semua footage yang kami sudah rencanakan buat feature LUSI ini. Berangkat jam 5 pagi dari kos Mba Ndru karena ga mau bangun kesiangan..kami naik GARUDA yang terbang jam 07.15 dan hrus kembali lagi ke Jakarta dengan ADAM AIR, jam 19.45...hiks..

So, bgitu sampe langsung dijemput Pak Dedi, supir yang aku sewa.
Sempet malu deh di airport Djuanda. Abis bapak ini bawa kertas putih gede,
bertuliskan "ATIK NOS TV BElanda"..hehehehe...MakLum baru kali ini gw digituin...hihihihihi....
Padahal pagi jam 6, gw masih sempet gw telpon dan bilang nanti gw hubungi kalau sudah landing. Eh dia udah keburu nyiapin kertas putih itu duluan..hehehehe...

Trus, kami juga berjumpa Pak Amin di Bandara untuk pergi bersama ke lokasi untuk ambil gambar plus wawancara dengannya.

Ada kejadian lucu sih sama Pak Amin. Dari awal dia pengen banget kampusnya dishooting.
Dan upayanya membujuk ku supaya wawancara bisa dilakukan di kampusnya masih terus dilakukan bahkan ketika kami sudah selesai dengan tugas kami dan tengah dalam perjalanan pulang ke JKT..hehehehe...

Dia bilang..pengen numpang keren di BElanda kalau kampusnya di shooting.
Tapi kepadanya gw jelasin bahwa untuk kebutuhan gambar, kami perlu melakukan wawancara di lokasi untuk memberi back ground gambar yang lebih tepat dengan tema yang ami angkat dalam liputan kali itu. Untungnya dia mengerti, dan akhirnya setuju meski akhirnya mengeluh pusing dan tidak bisa menghilangkan bau yang tertinggal akibat wawancara dengan kami di sumber utama lumpur panas itu muncul.

oh iya..Pak Amin juga sempat ketakutan bin panik ketika LUSI yang keluar semakin besar, melutup-letup-bergemuruh seperti suara ombak yang besar di lautan dan mengepulkan asap tebal putih dan hitam. Dia seketika meninggalkan posisinya, padahal pertanyaan belum semua ditanyakan. Sesi wawancara pak Amin dengan kami pun terpaksa dihentikan untuk sementara. IBu bos malah asik mengambil gambar aktivitas LUSI yang mengerikan itu, dengan resiko yang cukup tinggi.

Sebenarnya ibu bos juga takut banget dengan kenekatan dia mengambil gambar pada jarak yang kelewat dekat. dia sempat bilang "If I felt into the hot mud, send my love to my husband yah!"...hehehehe...geblek nih cewe...

Tapi gw pikir kenekatannya itu dipicu karena kebutuhan dan momentum yang tepat dan bagus, juga dukungan dari Piet Prins, konsultan Belanda yang diajak Lapindo mengatasi lumpur itu. Cowok bertubuh tinggi besar ini sangat-sangat helpfull, nice and very much polite...
Taking care of person kinda be deh..hehehehe...Thoughtful abiss...

Bule ini kami jemput di Sommer Set begitu kami berkonvoi dengan mobil pak Amin dari Bandara Djuanda. Dari awal dia bikin gw merasa dihargai, dengan mengajak bicara dengan bahasa Inggris, mski Ibu Bos slalu ngajak atau nanya dia dengan Boso Londo. Tuh baek kan ? Jarang-jarang gw nemu Londo yang kayak gini. Dia bikin gw ikut terlibat dan dalam percakapan mereka dengan berbahasa Inggris supaya gw juga ngerti..(Thanks yah Piet)...

Dari sommerset, Pak Amin memilih bergabung dengan mobilku,
sementara Ibu Bos, bergabung dengan mobil Piet.

Perjalanan lancar. Ga ada kendala macam ijin dan birokrasi komplex ga penting itu.
Kami dengan mudah masuk lokasi utama semburan dan mengambil semua gambar yang kami perlukan. Mungkin karena Piet ada bersama kami dan orang-orang Lapindo mengenalnya dengan baik meski dia baru 11 hari disana.

Begitu tiba, gw disambut debu tebal bikin kelilipan juga bau sulfur tidak sedap. Pekerjaan pembuatan tanggul yang jebol rupanya sedang dimulai lagi. Eskavator dan banyak alat berat lainnya sibuk mengangkut tanah dan sedikit material dan batu besar. Jalan tol di kilometer 41 terlihat masih basah terendam sedikit rembesan lumpur, tapi ada alat berat yang mulai mengeringkannya.

Abis itu gw jijik lihat tuh lumpur hitam. Trus jadi Sedih karena banyak rumah dan pabrik terendam juga tanaman mati karenanya.
Kesimpulan sementara gw ...Luas juga area yang terkena luapan lumpur.

Dan ternyata tanggul yang dibangga-banggakan dan berulang kali ditinggikan Lapindo hingga ketinggian 8 meter, untuk menahan luapan lumpur, cuma terdiri dari bahan tanah. Pantes gampang jebol. Tanah biasa gitu loh. Seberapa kuat sih nahan volume lumpur yang 140 m3 per hari nya ?

Tapi....setelah diajak "berpiknik" ga jelas sama teman-teman Londo Piet...Gw baru bener-bener nyadar ternyata luar biasa luas area luapan lumpur itu. dari Kilometer sampai ke Desa Glagaharum...lumpur dimana-mana. Di kawasan pabrik ketinggian lumpur hampir menenggalamkan tiang-tiang listrik dan lampu.
Sawah pun jadi korban. Sawah yang mustinya dipanen dua minggu lagi.
Ludes jadi lumpur hitam.
Tak punya nyawa dan manfaat lagi, meninggalkan geram dan nelangsa para petani.

Rumah penduduk juga ternyata tak cuma terendam lumpur. Air berbau tak sedap berwarna hitam yang pastinya tak sehat, juga ikut menenggelamkan rumah-rumah mereka.

Tapi warga tak punya banyak pilihan. Mereka kehilangan semua harta benda mereka.
Meski jorok dan tak sehat, mereka tetap mencari apa yang masih bisa digunakan.
Bahkan lembaran foto hitam putih yang koyak karena air pun masih berharga.
Setidaknya begitu yang dirasakan ibu Khodijah, warga desa jatiRejo.
bersama putri bungsunya dan suaminya gatot, mereka mengangkuti barang apapun yang tertinggal dalam rumah mereka yang terendan lumpur dan air.

Hati dan pikiran mereka nanar. Lapindo diminta bertanggung jawab. Mengganti rugi semua yang sudah rusak akibat lumpur. Uang kontrak rumah dua tahun sebesar Rp 2 juta, jelas tak sepadan dengan kerugian yang mereka derita.

Lalu apa kata Lapindo ?
GM nya Imam Agustino mengatakan bahwa mereka tengah melakukan their maximum effort to handle this mud problems. Kata MAXIMUM EFFORT ini berulang kali dia tegaskan dalam wawancara dengan kami di sebuah ruangan hotel Shangri-La yang mereka jadikan salah satu tempat koordinasi dan rapat.

He looks serious with his statement, meski gw tau statement dia bahwa sumber semburan lumpur itu bukan berasal dari sumur Lapindo, karena jaraknya 150 meter dari sumur pengeboran mereka, adalah bullshit.
yang menarik dari Imam ini, adalah selain masih sangat muda bin ganteng dan ramah, ternyata bapak yang juga kerja untuk LIPI ini, baru menjabat jd GMnya Lapindo selama 40 hari saja.
Nah Lo....

Well, Yang jelas...gw pesimistis dengan keseriusan Lapindo.
Meski tau mereka lagi kacau balau dan pusing tujuh keliling sama urusan lumpur ini,
gw pikir mereka tetap harus bertanggung jawab dan trully melakukan their optimal effort.
Mudah-mudahan aja sih..skenario menutup sumber luapan dari tiga sumur sekaligus bisa berhasil meski warga harus menunggu tiga bulan lagi upaya itu selesai.
Soal opsi membuang lumpur ke Selat Madura begitu saja karena dinilai tidak mengandung bahan berbahaya, tetap gw tolak.
Yang namanya buang sampah mah dimana-mana kalau tak diolah dengan benar,
pasti merusak alam. Pun, gw masih percaya dengan penjelasan Pak Amin, bahwa ada senyawa logam dalam lumpur yang tidak bisa larut dalam air, dan akan mengambang di permukaannya. dan itu akan membuat matahari tidak bisa menembus dasar laut lalu mematikan biota yang hidup di dalamnya.
Mending lumpurnya dimanfaatkan jadi bahan batu bata atau genteng atau keramik kalau memang benar bisa dilakukan.
tapi sayang, gw belum menemukan hasil kajian unsur-unsur dalam lumpur itu.
apa benar seperti yang disebut pak Amin atau tidak.
Nanti deh ya..klo nemu diinformasikan lagi.

for the time being...TOLAK Lumpur dibuang Ke Laut !!!!